Menjaga Lisan di Era Komentar Media Sosial

29 Oct 2025

Di era digital saat ini, media sosial menjadi ruang yang memudahkan siapa pun untuk berbicara, berpendapat, bahkan mengkritik secara terbuka. Namun, kebebasan ini seringkali membuat sebagian orang lupa bahwa setiap kata—termasuk komentar di dunia maya—akan dimintai pertanggungjawaban. Dalam Islam, menjaga lisan adalah bagian penting dari akhlak, dan pada era media sosial, menjaga “lisan digital” menjadi tantangan tersendiri.

Artikel ini membahas bagaimana cara menjaga lisan, khususnya di platform media sosial, serta dampaknya dalam kehidupan pribadi dan sosial seorang Muslim.

1. Pentingnya Menjaga Lisan Menurut Islam

Islam memberikan perhatian besar terhadap lisan karena ia dapat menjadi sebab kebaikan sekaligus keburukan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan ini tidak hanya berlaku untuk ucapan langsung, namun juga tulisan, komentar, ataupun unggahan di media sosial. Tulisan sama nilainya dengan ucapan, karena tetap dapat menyakiti, menyinggung, atau menginspirasi orang lain.

2. Tantangan Menjaga Lisan di Media Sosial

Beberapa faktor yang membuat kontrol diri menjadi lebih sulit di dunia digital:

a. Anonimitas dan Keberanian Semu
Banyak orang merasa bebas berkata kasar atau menghina karena merasa tidak dikenal atau tidak bertemu langsung dengan lawan bicara.

b. Budaya Debat dan Balas Komentar
Media sosial mendorong orang untuk cepat membalas, mempertahankan pendapat, dan merasa harus selalu benar.

c. Konten Provokatif dan Hoaks
Sesuatu yang viral sering memancing komentar emosional. Tanpa verifikasi, orang cepat membagikan informasi atau komentar negatif.

3. Jenis-jenis “Lisan Digital” yang Perlu Dijaga

Beberapa bentuk ucapan tulisan digital yang harus dihindari:

  • Ghibah (mengumpat/bergosip) meski dilakukan dalam kolom komentar atau chat.

  • Fitnah dan menyebar hoaks, baik berupa teks, gambar, maupun video.

  • Ujaran kebencian dan menghina, termasuk menyindir secara halus.

  • Komentar negatif tanpa adab, meskipun niatnya mengkritik.

Tidak semua komentar buruk terlihat kasar; kadang komentar sinis atau meremehkan pun bisa menjadi dosa.

4. Adab Berkomentar di Media Sosial

Agar lisan digital tetap terjaga, berikut adab yang perlu diterapkan:

a. Tahan Diri Sebelum Menulis
Latih diri untuk berhenti sejenak sebelum menekan tombol “kirim”. Jika kalimat itu menyakiti, lebih baik dihapus.

b. Sampaikan Kritik dengan Adab
Jika ingin mengingatkan, gunakan kata-kata yang sopan, tidak merendahkan, dan sertakan solusi.

c. Pilih Diam Jika Tidak Bermanfaat
Tidak semua hal perlu dikomentari. Jika tidak membawa kebaikan, lebih baik tidak menulis apa pun.

d. Verifikasi Informasi Sebelum Membagikan
Dalam Islam, tabayyun (klarifikasi) adalah kewajiban sebelum membagikan berita.

5. Dampak Positif Menjaga Lisan di Media Sosial

Menjaga lisan bukan hanya membawa pahala, tetapi juga memberi manfaat nyata:

  • Meningkatkan kualitas hubungan, baik online maupun offline.

  • Mencerminkan akhlak seorang Muslim yang baik dan berwibawa.

  • Membangun citra diri yang positif dan terpercaya.

  • Menghindarkan diri dari konflik dan permusuhan.

Setiap tulisan yang bernilai kebaikan akan menjadi pahala jariyah, terutama jika menginspirasi orang lain.

6. Langkah-langkah Praktis untuk Melatih Lisan Digital

  • Biasakan menulis dengan niat baik sebelum mengomentari.

  • Batasi respon ketika sedang marah atau emosional.

  • Gunakan kaidah 3 filter bijak:
    “Apakah benar? Apakah baik? Apakah bermanfaat?”

  • Ikuti akun-akun yang menginspirasi dan menambah ilmu, bukan akun yang memancing emosi.

  • Jadikan media sosial sebagai ladang amal, bukan tempat debat.

Menjaga lisan di era komentar media sosial adalah wujud akhlak dan bentuk kesadaran bahwa setiap kata akan dipertanggungjawabkan. Media sosial bisa menjadi ladang pahala jika kita menggunakannya untuk menyebar kebaikan, namun dapat pula menjadi sumber dosa jika kita tidak berhati-hati.

 

Mulai hari ini, mari lebih bijak dalam menulis, berbicara, dan berinteraksi di dunia maya. Jadikan komentar kita cerminan iman dan akhlak yang mulia.